ICIEHI yang digelar di Malang, membahas berbagai isu terkait dengan produk Halal di Asia (istimewa)

Malang, IH.idKali kedua International Conference on Islam Economy and Halal Industry (ICIEHI) digelar di tanah air, dimana tahun ini Malang menjadi pilihan untuk pembahasan terkait produk-produk halal. Pada kegiatan tahun ini Fakultas Ekonomi UM sebagai pihak penyelenggara ICIEHI yang bekerjasama dengan Universtitas Putra Malaysia mengangkat tema “Fostering Islamic Economy through Halal Business and Industry: Challenges, Oppurtunities, and Prospects”.

ICIEHI ini berlangsung selama dua hari yakni pada tanggal 30-31 Juli 2019 dengan mendatangkan 4 narasumber dari beberapa negara berbeda, yakni: Prof. Madya Dr. Nurdeng Deuraseh (Brunei Darussalam), Assoc Prof. Dr. Nangkula Utaberta, IAI., M.Arch. (Malaysia), Dr. Priyo Wahyudi, M.Si (Indonesia) mewakili Dr. Ir. H. Lukmanul Hakim, M.Si., Dr. Acharee Suksuwan (Thailand) mewakili Prof. Dr. Winai Dahlan.

Wakil Dekan I, Dr. Agus Hermawan, M.Si., Grad Dip MGT., M.Bus., menyampaikan harapannya atas terselenggaranya ICIEHI 2019 ini pada sambutan pembukaan acara tersebut.

“Kami berharap bahwa seminar internasional mengenai halal dapat memberi kontribusi positif untuk praktisi saintis dan prospek ekonomi di dunia tentang komunitas Asia,” ujarnya di Hotel santika Malang.

Lebih jauh, dia mengungkapkan menurut Research, exchanges of student and lecturer, Indonesia masih menempati posisi ke-11 di bawah Malaysia dan Thailand. Untuk itu dalam gelaran ICIEHI diharapkan partisipasi para peserta untuk berkontribusi dalam sains, dikarenakan perkembangan pasar global yang semakin hari terus meningkat.

“Di masa mendatang sektor halal akan menjadi tren kehidupan, khususnya di Indonesia dan negara dengan mayoritas penduduk muslim lainnya,” katanya.

Hingga kini, Indonesia masih menjadi konsumen untuk produk halal industri dan Indonesia perlu menjadi pemimpin produsen produk halal dikarenakan Indonesia memiliki peluang yang lebih besar dari negara lainnya.

“Memiliki jumlah penduduk mayoritas muslim terbesar, namun Indonesia masih belum mempunyai regulasi yang tepat untuk membangun ekosistem halal,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here