Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyararakat (DRPM) Universitas Indonesia. (Istimewa)

Depok, IH.id – Dari kasus karies gigi, bisa menyebabkan penyakit jantung. Untuk itu, sakit gigi jangan disepelekan karena berhubungan dengan beberapa penyakit degeratif. Syaraf yang berada di dalam gusi berhubungan dengan seluruh tubuh. Itu dibuktikan, saat gigi mengalami masalah, seluruh tubuh merasakan bagaimanan sakit yang terjadi di sekitar wilayah gigi dan ulut tersebut.

Demikian yang diungkapkan oleh Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia Dr. Eva Fauziah, drg., Sp.KGA(K), saat mengunjungi T.K. Nurul Muttaqien, Depok, Jawa Barat, bersama Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia bekerja sama dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyararakat (DRPM) Universitas Indonesia, (23/7).

Dr. Eva mengatakan, kasus sakit gigi jika sudah mencapai email gigi harus segera dibersihkan. Kalau kena dentin, tentunya harus dibersihkan karena seseorang akan mengalami ngilu saat terkena makanan dan rasanya sakit, harus dikeluarkan makanannya.

“Kalau kena syaraf harus perawatan syaraf. Kalau tidak dibersihkan akan bisul di gusi,” ungkapnya.

Lebih jauh, dia mengungkapkan, keberadaan gigi susu menjadi hal yang sangat penting. Bagaimana tidak, ketika gigi susu bermasalah hingga ke tingkat syaraf gigi yang akhirnya menjadi akses, berlanjut kepada gigi tetapnya kelak.

“Saat gigi susu bermasalah hingga menjadi akses, tulang gigi tetap akan rusak yang mengakibatkan berubahnya struktur gigi, berubahnya posisi gigi dan lain-lain,” terangnya.

Selama ini orang tua terkadang memandang sebelah mata. Mendatangi dokter gigi pada saat sang anak bermasalah dengan kondisi giginya.

“Selama ini ibu yang datang ke saya selalu berpikir akan terganti (gigi susu pada anak). Kalau gantinya jelek bagaimana ?. Gigi susu itu adalah penuntun gigi tetap. Kalau misal gigi tetapnya tidak ada penuntunya, akhirnya akan pindah kemana-mana posisinya,” tegasnya.

Untuk itu, dia berpesan agar orang tua membawa buah hatinya ke dokter gigi sejak anak-anak tumbuh gigi untuk konsultasi dalam pertumbuhan giginya, atau sejak berumur dua hingga Sembilan bulan..

“Buat anak di bawah umur dua tahun biasanya nangis (diajak ke dokter). Tetapi setelah lebih dari dua tahun, sudah bisa berkomunikasi. Jangan mengajak anak saat sudah bermasalah dengan giginya. Kita tumbuh gigi minimal 32 bulan atau 2,5 tahun itu sudah harus ke dokter gigi untuk di cek,” imbuhnya.

“Kalau gusi sudah berwana merah berarti giginya sudah bermasalah, di tambah lagi banyak plak. Gigi adalah yang pegang gigi, kalau bermasalah dengan gusi akan seluruhnya bermasalah dengan giginya. Gusi yang baik berwarna pink. Anak kita kalau giginya baik itu kita juga yang suka. Karena kalau rusak akan mengganggu kemana-mana. Pembersihan gigi terjadi keluar darah itu biasa, karena giginya sudah bermaszlah. Tetapi setelah dibersihkan, giginya akan sehat kembali,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here